PESTA BABI: Kolonialisme di Zaman Kita
Film dokumenter terbaru dari Redaksi JubiTV yang dirilis hari ini, Jumat 22 Mei 2026, bertajuk "PESTA BABI: Kolonialisme di Zaman Kita", menelanjangi realitas pahit yang sedang terjadi di pelosok Papua Selatan. Di balik narasi mentereng tentang ketahanan energi dan pangan nasional, ada jutaan hektar ruang hidup masyarakat adat yang kini terancam ekskavator.
Pemerintah Republik Indonesia saat ini mengalokasikan 2,5 juta hektar hutan Papua untuk proyek Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan dan energi—meliputi perkebunan tebu untuk bioetanol, kelapa sawit untuk biodiesel, hingga pencetakan sawah. Film ini merekam dengan tajam bagaimana kebijakan ambisius ini mendisrupsi tatanan keseharian masyarakat sipil dari suku Marin, Yinan, Auyu, dan Muyu.
Tergusurnya "Supermarket" Alam dan Realitas Kelas Pekerja
Jika dilihat dari lensa sosiologi kerakyatan, perubahan drastis ini bukan sekadar hilangnya pepohonan, melainkan tercerabutnya akar peradaban dan sumber ekonomi komunal. Hutan bagi Suku Auyu dan Marin bukanlah lahan kosong, melainkan "supermarket" kehidupan, lumbung pangan gratis, sekaligus situs sejarah mereka.
Dinamika sosial perlahan bergeser dan menciptakan realitas pekerja yang timpang. Cerita Priska Benny, seorang perempuan yang pernah menjadi buruh kelapa sawit, menjadi potret buram kehidupan sehari-hari kaum pinggiran. Bekerja memeras keringat di perkebunan korporasi selama sembilan tahun lamanya, ia menghadapi kenyataan bahwa gajinya habis terpotong untuk biaya bama (bahan makanan) bulanan, nihilnya hari libur bahkan di hari Minggu, dan tidak adanya peningkatan taraf hidup. Kini, Priska dan para perempuan lainnya memilih jalan mandiri; bertahan dengan kembali memancing dan merawat hutan daripada menjadi buruh di atas tanah ulayatnya sendiri.
Palang Adat dan Pesta 10 Tahun: Arisan Kultural Penjaga Ekosistem
Menghadapi masifnya modernisasi paksa dan militerisme, rakyat Papua menempuh jalur perlawanan melalui instrumen kultural dan spiritual. Suku-suku di Papua Selatan secara kolektif telah menancapkan lebih dari 1.800 salib merah berhias ukiran adat. Salib yang didirikan di dusun-dusun sagu dan hutan adat ini bukan semata simbol keagamaan, melainkan tapal batas dan palang adat sakral yang melarang keras masuknya perusahaan ke ruang hidup mereka.
Lebih jauh di garis belakang pedalaman Boven Digoel, Suku Muyu memiliki cara observasional dan komunal yang sangat unik dalam merawat tanahnya: Awon Atatbon atau Pesta Babi. Pesta ini menuntut persiapan dan kesabaran luar biasa selama 10 tahun.
Babi-babi tersebut tidak diternak di dalam kandang, melainkan dilepasliarkan dengan nama masing-masing. Mekanisme sosiologis ini memastikan Suku Muyu, khususnya marga Kimko, wajib terus menjaga keutuhan 479 hektar hutan mereka selama satu dekade agar ekosistem babi-babi itu tetap hidup dan berkembang biak. Saat pesta tiba, ini bukanlah acara makan daging gratis. Semua marga akan membayar jerih payah tuan rumah; sebuah bentuk arisan kultural dan ekonomi resiprokal yang berfungsi kuat untuk mengonsolidasikan aliansi kerakyatan guna menahan ancaman perusakan lingkungan.
Kesimpulan
Film ini menjadi catatan observasional yang mendalam tentang benturan antara peradaban korporasi dan kehidupan sehari-hari rakyat. Pembangunan yang didorong tanpa mempertimbangkan suara rakyat dan ekologi sosial lokal hanya akan mengulangi sejarah kelam kolonialisme—di mana kelompok akar rumput harus mengorbankan rumahnya demi memenuhi dahaga industri dunia.
Sumber Referensi:
Tonton film dokumenter selengkapnya di channel YouTube Redaksi JubiTV:

Post a Comment for "PESTA BABI: Kolonialisme di Zaman Kita"